SEKILAS LSM ADAT MAESA'AN TOU MALESUNG

Latar Belakang Maesa'an Tou Malesung sebagai LSM Budaya Minahasa Adat dan Kebudayaan merupakan hal yang tak terpisahkan dari per...


Breaking News

I Jajat U Santi


SEKILAS PANDANG

Latar Belakang Maesa'an Tou Malesung sebagai LSM Budaya Minahasa Adat dan Kebudayaan merupakan hal yang tak terpisahkan dari peradaban manusia (tou) Malesung (Minahasa) yang memiliki corak sosiokultural (bermasyarakat). Hal itu dibuktikan dengan terbentuknya berbagai kesepakatan dan pemahaman-pemahaman terhadap kelangsungan dari kebudayaan itu sendiri, yang berawal dari perjanjian atau kesepakatan persatuan oleh nenek moyang orang Minahasa di Batu Pinawetengan, atau yang dikenal dengan prasasti Pinawetengan yang dilaksanakan pada beberapa kesempatan. Musyawarah untuk mencapai kata mufakat dan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh dalam semangat Pinawetengan, batu besar yang disebut tumotowa sebagai Watu Rerumeran ne Empung di bukit Tonderukan, yang kemudian dapat pula disebut sebagai wata’ esa ene yakni pernyataan tekad persatuan, setiap anak suku (READMORE...)

Kamis, 10 Maret 2016

WARUGA, KUBUR BATU KUNO WARISAN TOU MALESUNG

Kompleks Taman Waruga di desa Sawangan kecamatan Airmadidi Minahasa Utara (foto ist)
WARUGA, adalah kubur batu yang dibuat pada zaman megalitikum. Waruga banyak tersebar di tanah Malesung (Minahasa), seperti di daerah Airmadidi Bawah dan Sawangan, Tomohon.
Bahkan di Sawagan Minahas Utara, kumpulan waruga yang disebut Taman Waruga dijadikan lokasi Taman Purbakala setelah terjadi penyatuan berbagai Waruga yang tersebar di sekitar daerah tersebut,

Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu besar. Waruga terdiri dari dua bagian, yakni bagian atas yang berbentuk segi tiga dan bagian bawah yang berbentuk kotak. Bagian bawahnya yang mempunyai lubang di tengah inilah tempat meletakkan mayat.

Dari beberapa catatan, Waruga mulai dipergunakan oleh orang Minahasa sebagai kubur sejak abad ke IX. Sebelumnya suku Minahasa mempunyai kebiasaan mengurbur mayat dengan membungkus dengan daun woka sebelum ditanam. Kemudian kebiasaan membungkus dengan daun woka diganti dengan memasukkan ke dalam rongga pohon kayu atau nibong.

Ketika dikubur di dalam Waruga, orang meninggal tersebut di letakkan menghadap ke Utara dalam posisi duduk dengan tumit kaki menempel pada pantat serta kepala mencium lutut. Orang Minahasa percaya, nenek moyang mereka berasal dari Utara.

Penggunaan Waruga sebagai kubur mulai mendapat larangan pada tahun 1860 ketika pengaruh pemerintahan Belanda dan agama Kristen semakin kuat di Minahasa. Beberapa tahun kemudian, orang Minahasa sudah mulai menggunakan peti mati sebagai pengganti Waruga.

Waruga ditemukan di Minahasa bagian Utara, biasanya terdapat di pekarangan atau kolong rumah. Jumlah Waruga yang ditemukan juga tidak terlalu banyak, ada sekitar 2000-an Waruga yang tercatat telah ditemukan.

Biasanya di dinding penutup Waruga terdapat pahatan berupa relief yang menggambarkan sosok yang dikuburkan. Banyak terdapat ikon berupa orang, binatang, benda alam dan tumbuh-tumbuhan serta beberapa organamen geometris lainnya.

Relief Waruga.
RELIEF WARUGA. Pahatan berupa relief di diding Waruga sering menggambarkan simbol sosial orang yang dikuburkan di dalamnya sewaktu masih hidup. (19 Juli 2013)

Di daerah Airmadidi, Minahasa Utara terdapat lokasi tempat dikumpulkannya Waruga. Salah satunya di desa Sawangan yang kemudian telah dijadikan sebagai Taman Waruga Sawangan. Juga terdapat Taman Waruga di Airmadidi Bawah.

Tutup Waruga.
TUTUP WARUGA. Waruga terdiri dari dua bagian, yakni bagian bawah yang berbentuk kotak tempat meletakkan mayat, dan bagian atas sebagai penutup yang berbentuk segitiga. (ist)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By